Serangan Ad Hominem

Kadang-kadang orang menyerang pribadi orang yang mengemukakan argumen dan bukan argumen itu sendiri. Mari kita renungkan pembicaraan yang kita harapkan tidak pernah terjadi, di bawah ini:

G. Washington: Saya tidak setuju pandangan lawan saya yang terhormat ini mengenai perlunya pendanaan dari negara untuk perumahan bagi kaum minoritas. Menurut saya, memaksa pembayar pajak mendanai program seperti itu adalah sebuah kesalahan.

T. Jefferson: Saya harus menegaskan bahwa kepercayaan lawan saya salah dan masyarakat harus mengabaikannya. Alasan saya adalah beliau berada di dunia militer sepanjang hidupnya dan karena itu tidak bisa memahami perasaan dan kebutuhan kaum minoritas.

G. Washington: Sekali lagi saya tidak setuju. Pandangan saya tidak dipengaruhi oleh posisi saya dalam hidup atau pangkat saya dalam dunia militer. Namun demikian, lawan saya tidak bebas dari bias serupa. Keinginannya agar masyarakat membiayai program pemerintah untuk perumahan kaum minoritas berasal dari rasa kasihan yang tidak seimbang bagi mereka dan keinginannya yang gila untuk memajukan kepentingan mereka. Pandangannya tidak dapat dipercaya.

T. Jefferson: Ooo. Jadi kita mau berbicara tentang bias? Bagaimana dengan kebencianmu yang penuh prasangka terhadap orang Indian? Kalau itu tidak mempengaruhi kepercayaanmu tentang kaum minoritas, saya tidak tahu lagi apa yang harus saya katakan.

G. Washington: Perasaan saya terhadap orang Indian tidak ada hubungan dengan semua ini. Namun kalau mau sindir-menyindir, baiklah. Saya juga bertanya-tanya dalam hati apa yang anda lakukan pada setiap perjalanan anda ke Perancis. Tidak ada seorangpun yang tahu

T. Jefferson: Apa yang anda bahas sekarang? Menyerang karakter saya? Pernahkah saya mengatakan sesuatu tentang pohon cherry itu?

Dalam perdebatan ini, kedua pendebat tidak bertingkah laku secara terhormat. Keduanya tidak menjawab argumen lawan, namun malah saling menyerang pribadi satu dengan yang lain. Hal ini biasa terjadi dalam perdebatan – khususnya perdebatan politis. Kalau seorang pendebat dapat mendiskreditkan karakter atau motif lawannya, maka masyarakat akan memiliki pandangan buruk terhadap argumen lawan yang diserang tersebut.

00013

Dapatkah udang seperti ini memerintah negara kita yang besar? Ilustrasi oleh Rob Corley.

Sebuah serangan ad hominem adalah penyerangan terhadap karakter lawan atau motif lawan untuk mempercayai sesuatu, bukan menyerang argumen lawan.

Ad hominem” adalah frasa bahasa Latin yang berarti “terhadap orangnya.”

Maria: Pamanku mengatakan bahwa semua pembunuh harus dihukum kati sehingga orang jera dan tidak ada yang mau membunuh orang lain lagi.

Meli: Bukankah pamanmu pernah dipenjara? Ku pikir kita tidak bisa mempercayai pandangan orang yang pernah menjadi penjahat.

Ini bukan cara yang tepat untuk berargumen. Seseorang bisa saja mempunyai karakter yang tidak benar tetapi argumennya bisa saja tetap valid.

Charles Darwin – yang mengembangkan teori evolusi – juga tertarik dengan cacing tanah. Pada tahun 1800-an orang menganggap bahwa cacing tanah buruk. Namun Darwin melakukan eksperimen untuk menunjukkan bahwa cacing tanah membantu menyuburkan tanah. Orang pada jaman Darwin bisa saja berkata tentang Darwin :

“Kita tidak boleh mempercayai apa yang Darwin katakan tentang cacing tanah, soalnya dia juga percaya bahwa monyet dapat berubah menjadi manusia!”

Argumen seperti ini merupakan argumen yang tidak relevan. Argumen ini menyerang kepercayaan Darwin yang lain, bukan alasan yang dia kemukakan untuk mendukung pandangan bahwa cacing tanah itu baik. Orang harus menganalisa alasan yang Darwin kemukakan untuk mendukung pandangannya tersebut, dan mengabaikan kepercayaan Darwin yang lain yang dia tidak setujui.

Ad hominem juga terjadi kalau orang menuduh lawannya mempunyai motif yang salah.

Tony: Pamanku berkata bahwa Aburizal Bakrie adalah seorang yang sebenarnya pintar.

Tobi: Bukankah pamanmu teman baik Bakrie? Aku pikir kita tidak perlu terlalu memperhatikan argumen pamanmu kalau dia teman Bakrie. Pendapatnya jelas bias.

Paman si Tony mungkin memiliki bias, namun Tobi tidak dapat begitu saja menganggap apa yang dikatakannya tidak benar hanya karena dia memiliki bias. Karakter atau motif seseorang bisa saja mempengaruhi argumennya, namun pengaruh tersebut tidak harus mematahkan argumen yang dia kemukakan.

Bukan Ad Hominem

Bukanlah sebuah ad hominem kalau orang hanya mempertanyakan apakah seseorang menyatakan kebenaran.

“Menurutku kita tidak dapat mempercayai Boby yang mengatakan bahwa dia tidak berada di tempat kejadian. Dia terkenal sebagai penipu ulung, dan dalam kasus ini dia memiliki motif untuk menipu.”

Orang yang mengatakan itu tidak sedang mendiskreditkan pandangan Boby dengan mengatakan bahwa dia memiliki karakter yang buruk. Dia mendiskreditkan kemampuan Boby untuk mengungkap fakta – artinya Boby tidak dapat dipercaya.

______________________________________________________________

  1. Informasi lebih lanjut tentang buku ini dapat diperoleh dengan mengklik di tautan ini
  2. Sebagian isi buku ini dapat didownload gratis dengan mengklik tautan ini
  3. Cara mendapatkan buku ini dapat dilihat di tautan ini
  4. Kutipan lain buku ini dapat dibaca di tautan ini
  5. Contoh Soal dan Jawaban dalam buku ini dapat dibaca pada tautan ini
Iklan
Pos ini dipublikasikan di Kutipan Buku, Serangan Ad hominem dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Komentar anda, berisi nama dan tempat tinggal anda. Misalnya: Joni (Kupang)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s