Apa Itu Propaganda?

Di Bawah ini adalah kutipan pelajaran 29, Buku Detektif Sesat Pikir

Pelajaran 29: Apa itu Propaganda?

Pembuat iklan selalu mencari cara untuk menekan kita membeli produk mereka. Para pembuat barang merancang segala sesuatu mulai dari mobil sampai sabun sedemikian rupa sehingga kita tidak dapat menolak membelinya.

“Belilah sabun Swiss Springtime – membuat anda merasa bersih dan segar sepanjang hari!”

Para pembuat mobil menciptakan mobil yang kelihatan tangguh, mewah, dan trendy. Semuanya dilakukan demi membuat kita membelinya.

“BMW: satu-satunya mesin yang pantas dikendarai.”

Di ruang pengadilan, para pengacara memberi juri banyak alasan sehingga juri memihak mereka

“Kejahatan ini begitu kecil, sekecil dia mencuri barang ibunya sendiri!”

Semua di atas adalah contoh propaganda.

Propaganda adalah setiap strategi untuk menyebarkan kepercayaan dan gagasan kita.

Propaganda dapat ditemukan dalam pidato politik, acara televisi, iklan, dan banyak lagi yang lain. Mereka yang mengemukakan propaganda menggunakan berbagai metode berbeda untuk menyebarkan gagasannya. Kita menyebutnya teknik propaganda.

Propaganda tidak selalu buruk. Tidak ada yang secara melekat salah pada usaha menyebarkan gagasan kita dan mendorong orang lain membeli produk kita – sepanjang kita melakukannya dengan jujur. Sayangnya, kadang-kadang alasan yang orang berikan kepada kita agar kita membeli barang mereka, atau agar kita memilih satu anggota DPR, atau agar kita melakukan yang mereka inginkan, adalah alasan yang tidak baik. Kadang-kadang alasan yang dikemukakan didasarkan pada emosi dan bukan pada pikiran jernih. Seorang penjual truk akan menekan kita membeli truk yang dia jual karena truk itu kelihatan tangguh – bukan karena memang tangguh. Pengacara di ruang pengadilan menekan para juri sehinggamerasa bahwa pihaknya benar – bukan membuat mereka paham bahwa pihaknya benar.

Propaganda manipulatif digunakan saat orang mempermainkan emosi kita supaya kita setuju dengan dia tanpa berpikir secara seksama tentang masalah sebenarnya.

Dalam bab ini, kita akan membahas propaganda, dan yang kami maksudkan dengan propaganda adalah propaganda manipulatif.

Saat dua orang yang mengemukakan propaganda memanipulasi emosi kita dengan cara berbeda, seringkali kita tidak tahu emosi mana yang kita ikuti.

Pembela: Saudara-saudara juri sekalian, aku memohon saudara-saudara untuk membebaskan Ma Woke dari kasus pembunuhan ini. Dia sudah menikah dan memiliki tiga anak. Kalau dia dieksekusi atau dipenjara seumur hidup, keluarganya akan jatuh miskin.

Jaksa penuntut: Saudara-saudara juri sekalian, aku memohon saudara-saudara sekalian untuk menghukum Ma Woke atas kejahatan membunuh. Kita perlu menempatkannya di tempat dimana dia tidak dapat lagi melakukan kejahatan. Kalau saudara-saudara sekalian tidak menghukumnya, maka kemungkinan besar salah satu dari saudara yang menjadi korban berikut.

Perhatikan bagaimana kedua argumen ini kedengaran meyakinkan pada awalnya. Masalahnya adalah, anda tidak dapat berpihak pada keduanya. Setidak-tidaknya salah satunya harus salah.

Ada dua teknik propaganda yang digunakan dalam contoh di atas. Pembela dan Penuntut berupaya memanipulasi emosi para juri. Yang satu ingin juri berpihak padanya karena rasa kasihan, dan yang lainnya ingin agar para juri berpihak padanya karena alasan rasa takut.

Keduanya tidak membahas isu yang sebenarnya – atau isu yang seharusnya diputuskan para juri, yaitu: Apakah Ma Woke melakukan pembunuhan.

Propaganda manipulatif mirip dengan red herring karena menghindari isu penting yang harus dibahas dan menyerang target yang tidak relevan: yaitu emosi kita.

Saat kita menyadari bahwa kita sedang dimanipulasi dengan menggunakann propaganda, maka kita perlu bertanya pada diri sendiri: Apakah orang ini membuktikan hal yang dikatakannya? Ataukah dia hanya membuatku merasa bahwa dia telah membuktikan kata-katanya. Apakah yang dia katakan itu relevan?

Bagian ini akan menyajikan instrumen dan nama-nama yang anda dapat gunakan untuk menyadari emosi yang terkandung dalam iklan dan pidato politik. Kami ingin agar anda mengambil keputusan yang lebih baik ketika membeli sesuatu atau memilih para wakil rakyat atau presiden atau kepala daerah.

“Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil.” –Yohanes 7:24 (TB)

00031

Ilustrasi oleh Rob Corley

______________________________________________________________

  1. Informasi lebih lanjut tentang buku ini dapat diperoleh dengan mengklik di tautan ini
  2. Sebagian isi buku ini dapat didownload gratis dengan mengklik tautan ini
  3. Cara mendapatkan buku ini dapat dilihat di tautan ini
  4. Kutipan lain buku ini dapat dibaca di tautan ini
  5. Contoh Soal dan Jawaban dalam buku ini dapat dibaca pada tautan ini
Iklan
Pos ini dipublikasikan di Apa itu Propaganda?, Kutipan Buku dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Komentar anda, berisi nama dan tempat tinggal anda. Misalnya: Joni (Kupang)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s