Sesat Pikir Perlakuan Khusus/Standar Ganda

Di bawah ini adalah kutipan Pelajaran 6, Buku Detektif Sesat Pikir.

Pelajaran 6: Standar Ganda/Perlakuan Khusus

Pada bab sebelumnya kita mempelajari bagaimana orang menggunakan red herring untuk menghindari pertanyaan. Pada bab ini kita akan mempelajari metode lain yang orang gunakan untuk menghindari pertanyaan. Metode dimaksud adalah standar ganda. Standar ganda memperlakukan orang atau gagasan dengan tidak adil.

Letun: Muller, kamu memetik bunga! Kamu bekerja pada Hari Tuhan! Kamu memarahiku karena menyulam Pada Hari Minggu kemarin.

Muller: Kamu ini konyol deh, Letun. Menyulam itu kerja keras; aku hanya memetik bunga untuk teman kita Lomi yang sedang ulang tahun.

Letun dan Muller adalah penganut Quaker yang percaya bahwa tidak boleh bekerja pada Hari Minggu (Hari Tuhan). Namun Muller membuat pengecualian untuk kerja memetik bunga karena bunga itu untuk seorang teman.

Ketika orang menggunakan standar ganda atau berargumen mendukung sebuah pengecualian yang tidak memiliki justifikasi, maka dia melakukan sesat pikir perlakuan khusus.

Sesat pikir Perlakuan Khusus merupakan sejenis red herrring. Ketika seseorang mengemukakan sebuah pengecualian yang tidak terjustifikasi terhadap sebuah argumen, maka dia sedang menghindari pertanyaan. Perlakuan khusus dapat diilustrasikan dengan pernyataan, “Sebagian besar orang tidak boleh merampok bank, namun aku adalah pengecualian. Aku butuh uang!”

“Aku tahu bahwa aku perlu mengendalikan amarahku. Namun kau tahu sendiri, saat ini istriku terlalu menggangguku, sehingga satu-satunya yang dapat kulakukan adalah menguncinya dalam kamar mandi.”

Ketika seorang begitu terlibat secara emosional dalam sebuah isu, dia bisa saja membuat pengecualian terhadap aturan yang ada. Orang dalam contoh di atas marah terhadap istrinya, dan menurut dia kalau istrinya mengganggunya maka itu menjadi alasan yang kuat baginya untuk melakukan sebuah kesalahan.

Untuk mengenali Perlakuan Khusus, kita perlu mundur sejenak dan bertanya pada diri sendiri: Mengapa pengecualian ini relevan? Apakah pengecualian mengalihkan perhatian kita dari isu yang sebenarnya?

Perlakuan khusus terkait dengan kewajaran/keadilan.

Contoh: Peraturan Daerah di Indonesia mengharuskan para pengemudi kendaraan untuk tidak memacu kendaraan dengan kecepatan di atas 80 Km/jam. Namun di antara para polisi lalu lintas di Kota Abal-Abal, sudah ada semacam persetujuan untuk tidak menilang sesama Polisi kalaupun melanggar ketentuan tersebut. “Masa kita sesama polisi harus saling menilang?” ujar seorang petugas yang tidak mau disebutkan namanya

Memang ada waktu dimana polisi perlu melanggar aturan tersebut atau perlu terus berjalan pada saat lampu merah, misalnya saat mengejar seorang penjahat atau pelanggar aturan lalu lintas. Namun alasan yang dikemukakan di atas adalah contoh sebuah sesat pikir Perlakuan Khusus.

00012

Dalam hukum, kita tidak boleh menjadi pengecualian.

______________________________________________________________

  1. Informasi lebih lanjut tentang buku ini dapat diperoleh dengan mengklik di tautan ini
  2. Sebagian isi buku ini dapat didownload gratis dengan mengklik tautan ini
  3. Cara mendapatkan buku ini dapat dilihat di tautan ini
  4. Kutipan lain buku ini dapat dibaca di tautan ini
  5. Contoh Soal dan Jawaban dalam buku ini dapat dibaca pada tautan ini
Iklan
Pos ini dipublikasikan di Kutipan Buku, Sesat Pikir Perlakuan Khusus dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Komentar anda, berisi nama dan tempat tinggal anda. Misalnya: Joni (Kupang)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s