Sesat Pikir Post Hoc Ergo Propter Hoc Dalam Statistik

Di bawah ini adalah kutipan dari pelajaran 27 dalan Buku Detektif Sesat Pikir

Kita mungkin pernah mendengar orang mengatakan demikian:

“Anak muda, kau mau berpenghasilan tinggi kalau sudah dewasa bukan? Kalau begitu kau harus masuk ke perguruan tinggi terbaik yang dapat kau jangkau. Studi menunjukkan bahwa semakin baik mutu perguruan tinggi yang kamu masuki, semakin banyak uang yang kau hasilkan di kemudian hari.” – Seorang teman yang Peduli

Teman yang peduli tadi hanya berpikir tentang kebahagiaan anda di masa depan. Dia berpikir bahwa masuk perguruan tinggi yang baik akan membuat anda kaya. Dia berpikir nasehatnya mendapat dukungan bukti yang kuat – dan memang demikian adanya – tetapi interpretasinya sama sekali salah.

Teman anda yang peduli itu mungkin pernah membaca studi yang mirip dengan ini:

Universitas terkenal (sebut saja Stonehenge College) mencari orang yang tamat dua puluh tahun sebelumnya dan melakukan survey tentang berapa banyak uang yang mereka hasilkan, apa pekerjaan mereka, dll. Hasilnya mendukung dugaan di atas. Rata-rata lulusan Stonehenge College menghasilkan Rp. 1 Milyar per tahun dan mempunyai kondominium di Palm Beach. Tim studi tersebut membandingkan hasil ini dengan angka dari studi serupa terhadap perguruan tinggi yang kurang terkenal. Hasilnya…tamatan Stonehenge College menghasilkan lebih banyak uang.

“Aku tidak bisa membantah angka-angka itu,” kata anda. “Maka anda tidak dapat membantah kesimpulannya,” kata mereka. “Belajar di Stonehenge College akan membuat anda kaya, bukan?” … Salah.

Di sinilah post hoc ergo propter hoc menyelinap masuk. Jika rata-rata tamatan Stonehenge menghasilkan lebih banyak uang setelah menjalani pendidikan di Stonehenge, hal itu tidak berarti bahwa mereka menghasilkan uang lebih banyak karenabelajar di Stonehenge. Demikian pula, jika anda kuliah di Stonehenge, anda belum tentu akan jadi lebih kaya.

“Lalu bagaimana anda menjelaskan data yang tidak dapat dibantah ini? Mengapa tamatan Stonehenge menghasilkan lebih banyak uang, kalau bukan karena mereka kuliah di Stonehenge?” tanya mereka.

Memang benar bahwa dengan mengantongi ijazah dari Stonehenge anda otomatis akan mendapatkan pekerjaan berbayaran tinggi. Namun demikian, jika Stonehenge College memang memiliki peringkat yang tinggi, maka kemungkinannya sulit untuk masuk ke sana kecuali anda cerdas dan memiliki motivasi. Dengan demikian, penyebab sebenarnya dari penghasilan yang tinggi tamatan Stonehenge bukanlah karena mereka kuliah di Stonehenge College, tetapi karena mereka memang cerdas dan bermotivasi.

A tidak harus mendahului B atau sebaliknya agar satu argumen menderita post hoc ergo propter hoc. Keduanya bisa terjadi pada saat yang sama. Kekeliruan ini juga dilakukan saat seseorang berkata bahwa karena A dan B sering terjadi bersama-sama maka yang satu pasti jadi penyebab yang lain.

Studi terbaru yang dilakukan New England Association of Connection Concocters menemukan bahwa ada perbedaan besar antara hasil ujian orang-orang yang mendengarkan musik klasik dengan mereka yang mendengarkan musik pop. Pada ujian standar, hasil ujian orang yang mendengarkan musik klasik sekurang-kurangnya 15 menit sehari, jauh lebih tinggi daripada mereka yang mendengarkan lagu heavy metal. Mereka yang mendengarkan musik country menduduki tempat terbawah. Laporan itu mengatakan “Hasil ujian ini terkait erat musik dengan kehidupan sehari-hari. Musik mempunyai pengaruh yang lebih besar terhadap kehidupan kita daripada yang diketahui selama ini.” – Contoh Karangan Hans

Perhatikan kesimpulan yang tersirat dalam tulisan itu: kalau anda ingin hasil ujian yang baik, mainkan atau dengarkanlah Mozart. Selanjutnya, musik metal membuat orang bodoh. Kalau musik klasik dan hasil ujian yang bagus ada secara bersama-sama, maka musik klasik pastilah penyebab nilai ujian tinggi. Kita semua ingin agar hal ini benar – tampaknya juga hal ini logis. Tetapi pertanyaannya adalah mengapa bukan sebaliknya yang terjadi? Mereka yang punya nilai tinggi memang lebih pintar dan mempunyai cita rasa musik yang lebih tinggi sehingga mereka mendengarkan musik klasik, dan mereka yang tidak terlalu bagus nilainya sebenarnya tidak terlalu pintar dan cenderung mendengar musik metal dan country

Apakah dengan tidak menggosok gigi akan mendorong anda bunuh diri? Studi yang dilakukan selama lima puluh tahun terakhir menunjukkan bahwa ada hubungan antara tingkat penjualan sikat gigi dan angka bunuh diri. Saat terjadi penurunan angka penjualan sikat gigi, maka angka bunuh diri meningkat. “Ini sesuatu yang luar biasa,” kata presiden Colgate. “Kami selalu merekomendasikan orang untuk menyikat gigi, tetapi mereka tidak pernah berpikir betapa pentingnya menyikat gigi.”– Satu Lagi Contoh Karangan Hans

Orang seringkali menyimpulkan adanya hubungan antara hal-hal yang biasanya tidak saling berhubungan. Contoh di atas adalah satu contoh dimana satu penyebab yang terabaikan (tidak disadari) bertanggungjawab atas dua hal berbeda. Ekonomi mengalami penurunan tajam sehingga orang tidak punya uang untuk membeli sikat gigi. Orang pun banyak yang bunuh diri karena usaha mereka tidak berjalan baik – yang juga adalah akibat ekonomi yang merosot.

00030

Itulah sebabnya produk kami begitu penting!

Catatan: Informasi lebih lanjut tentang buku ini dapat dilihat dengan mengklik di sini. Cara mendapatkan buku ini dapat dilihat di sini.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Kutipan Buku, Sesat Pikir Post Hoc Ergo Propter Hoc. Tandai permalink.

Tinggalkan Komentar anda, berisi nama dan tempat tinggal anda. Misalnya: Joni (Kupang)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s