Sesat Pikir Post hoc ergo propter hoc

Di bawah ini adalah kutipan Pelajaran 26 dari Buku Detektif Sesat Pikir.  

Post hoc ergo propter hoc adalah frasa Bahasa Latin yang berarti “setelah hal ini, karena itu penyebabnya adalah hal ini.” Nama ini diberikan saat bahasa Latin masih terkenal di antara para detektif sesat pikir. Nama itu tetap digunakan sampai sekarang, sehingga kami tidak berkeinginan merubahnya.

Post hoc ergo propter hoc adalah mengambil kesimpulan bahwa karena A terjadi sebelum B, maka A pastilah penyebab B.

Andaikan anda tinggal di Negara Bagian Illinois, Amerika Serikat, dan saat ini adalah pertengahan bulan Februari. Seperti biasanya, suhu pada pertengahan Februari adalah 32 derajat di bawah 0 dan tinggi salju di luar adalah sekitar 15 cm. Anda tidak menyukai cuaca yang dingin dan mengharapkan cuaca yang lebih hangat. Untuk mengetahui keadaan cuaca, anda menyetel radio ke acara ramalan cuaca. Penyiar berkata: “Besok suhu akan meningkat tajam menjadi 0.5 derajat Celcius.” Esok harinya yang diramalkan benar-benar terjadi, dan seperempat dari salju yang ada meleleh. “Wah,” seru anda. “Benar-benar luar biasa si peramal cuaca itu. Dia mengatakan bahwa cuaca akan hangat, ternyata benar cuaca jadi hangat. Pastilah si peramal cuaca itu punya kemampuan untuk membuat cuaca menjadi hangat.” Anda kemudian cepat-cepat menelepon stasiun radio dan meminta penyiar menjadikan suhu minggu depannya meningkat sampai 26 derajat Celcius suhu tertinggi dan 22 Celcius suhu terendah.

00029

Ilustrasi oleh Tim Hodge

Anda baru saja melakukan sesat pikir post hoc ergo propter hoc. Anda berasumsi bahwa karena si peramal cuaca mengatakan cuaca akan hangat sebelum cuacanya benar-benar hangat, maka pasti si peramal cuacalah yang menjadikan cuaca lebih hangat.

Tiga bulan lalu, keadaan kita baik-baik saja. Anggaran seimbang, ekonomi mengalami pertumbuhan tertinggi, kita berdamai dengan bangsa lain dan cuaca juga hangat. Setelah itu kita memilih presiden baru. Sejak saat itu segala sesuatu menurun drastis. Sekarang kita mengalami defisit anggaran, roda ekonomi berada pada tingkat paling rendah, kita berperang dengan benua Antartika, dan cuaca sangat dingin di luar. Jadi, jelas bahwa presiden baru adalah penyebab dari semua ini

Jika presiden baru terpilih sebelum kondisi menjadi buruk, hal itu tidak harus berarti bahwa presiden barulah yang menjadi penyebabnya. Ini adalah kekeliruan berpikir yang lazim ditemukan. Kita melihat sesuatu terjadi, entah baik entah buruk, lalu mencari tahu apa yang terjadi sebelumnya dengan harapan akan menemukan penyebabnya. Tetapi apa yang terjadi sebelumnya belum tentu merupakan penyebab dari kejadian atau keadaan setelahnya.

Kalau kita bepergian dan kita terkilir, kita akan berpikir tentang semua hal-hal yang buruk yang terjadi sebelum itu – misalnya kita melihat kucing hitam, berjalan di bawah tangga, atau membuka payung di dalam rumah. Dengan gaya takhyul kita menyimpulkan bahwa hal-hal yang tidak saling berhubungan itulah yang menjadi penyebab terkilirnya kaki kita karena semua itu terjadi sebelum kita terkilir

Ayah: Nak, menurutku gitar listrik itu membawa pengaruh buruk bagimu.

Anak: Uh… mengapa begitu bung.. eehh salah.. maksud ku ayah? 

Ayah: Sejak kau membeli gitar listrik, kau membiarkan rambutmu panjang dan di rumah kamu berjalan-jalan sambil membungkuk dan tangan dimasukkan ke dalam kantong celana. Kami juga memperhatikan bahwa kau berbicara dengan cara yang tidak hormat kepada ibumu dan aku. Kau juga jarang sekali membantu di rumah.”.

Sang ayah sedang melakukan sesat pikir post hoc ergo propter hoc. Dia menyimpulkan bahwa karena gitar listrik dibeli sebelum perilaku anaknya berubah maka gitar listrik itulah penyebab anaknya berubah. Memang ada kemungkinan bahwa gitar listrik itu penyebab perilaku buruk si anak. Tetapi ada juga kemungkinan bahwa secara umum moralitas anaknya sudah menurun sebelum membeli gitar dan penurunan moralitas itulah yang justeru mendorong anaknya membeli gitar listrik, membiarkan rambut panjang, suka berjalan sambil membungkuk dengan tangan dalam kantong celana, kurang hormat orang tua, dan malas. Mungkin anaknya bergaul dengan anak-anak lain yang tidak beres?

Terkadang a post hoc ergo propter hoc benar – apa yang terjadi sebelumnya memangpenyebab dari satu kejadian atau keadaan. Kalau sebuah telur pecah di lantai, maka masuk akal untuk berpikir bahwa apa yang terjadi sebelumnya adalah penyebab pecahnya telur yaitu – anda menjatuhkan telur ke lantai. Namun demikian, hanya dengan mengetahui bahwa A terjadi sebelum B, kita tidak punya cukup alasan untuk menyimpulkan bahwa A adalah penyebab B. Kita perlu tahu lebih banyak daripada itu.

Untuk mempelajari lebih lanjut tentang Sesat Pikir Lain, silahkan dapatkan buku ini dengan mengklik tautan ini.

Informasi lebih lanjut tentang buku ini dapat diperoleh lewat tautan ini.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Kutipan Buku, Sesat Pikir Post Hoc Ergo Propter Hoc. Tandai permalink.

Tinggalkan Komentar anda, berisi nama dan tempat tinggal anda. Misalnya: Joni (Kupang)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s