Sesat Pikir Lereng Licin

Pada satu malam dingin, ketika si Arab kecil berada di tendanya, untanya menyibak tutup tenda samping. “Tuanku, kumohon,” pinta si unta, “ijinkan aku memasukkan kepalaku ke dalam tenda. Di luar terlalu dingin.”

“Dengan senang hati, dan selamat datang,” kata si Arab. Si unta menyorongkan kepalanya ke dalam tenda.

“Jika boleh, aku juga ingin menghangatkan leherku,” ujar si unta. “Masukkanlah lehermu ke dalam,” kata si Arab.

Si unta segera membalikkan kepalanya dan melihat ujung tubuhnya yang satu. “Hanya butuh sedikit ruang untuk menaruh kaki depanku ke dalam tenda. Aku sulit berdiri kalau kaki tidak berada dalam tenda.”

“Kau boleh menaruh kaki depanmu ke dalam tenda,” kata si Arab sambil bergeser untuk memberi ruang, karena tendanya kecil.

“Tidak bolehkah seluruh tubuhku masuk?” akhirnya si unta memohon. “Kalau aku berdiri seperti ini, maka pintu tenda akan terus terbuka.”

“Ya, ya,” sahut si Arab. “Kita berdua bisa berada dalam tenda supaya hangat.” Si unta lalu memasukkan badannya ke dalam tenda.

Namun tenda itu terlalu kecil. “Ku pikir,” lanjut si Unta, “tenda tidak cukup luas untuk kita berdua. Alangkah baiknya kalau kamu berdiri di luar, karena kamu lebih kecil.” Karena sebuah dorongan, si Arab tergesa-gesa keluar.

Adalah bijak untuk menolak awal dari sebuah malapetaka.

(Disadur dari “The Arab and His Camel” dalam buku The Book of Fables and Folk Stories karya Horace Scudder, 1915)

Sesat Pikir lereng licin mengasumsikan bahwa jika kita mengambil satu langkah, maka tidak ada yang dapat menghentikan kita mengambil langkah-langkah berikutnya karena setiap langkah sama.

Ibu: Kita tidak akan menambah seekor anjing lagi!

Ayah: Oh, kita bisa memelihara dua ekor anjing di rumah ini. Lagipula dia menyukai binatang.

Ibu: Dua anjing? Kalau sudah dua, nanti dia akan meminta tambah satu lagi dan dia tidak akan berhenti meminta!

Sesat pikir lereng licin mengasumsikan bahwa tidak ada pembatas antara menambahkan satu ekor anjing dan menambahkan dua atau tiga anjing. Namun dua ekor ajing dan tiga ekor anjing sangat berbeda. Kadang-kadang cara untuk mengenali sesat pikir lereng licin adalah terus melanjutkan argumennya sehingga mencapai kesimpulan logis akhirnya.

Ayah: Kenapa berhenti di tiga ekor anjing? Mungkin dia akan meminta seribu ekor anjing!

Ibu: Itu konyol. Kita bahkan tidak akan bisa membuka pintu depan kalau itu benar-benar terjadi.

00023

Perhimpunan Senapan Nasional: Jika Kongres menyetujui undang-undang yang mengharuskan penguncian pelatuk senapan, maka selanjutnya mereka akan memerintahkan kita mendaftarkan senapan yang kita miliki. Dengan demikian, mereka akan mudah mengetahui siapa saja yang dapat disita senapannya. Selanjutnya, ketika semua orang disita senapannya dan hanya penjahat yang memiliki senapan, maka para penjahat tersebut tidak akan takut siapa-siapa lagi.

Mungkin benar bahwa Kongres tidak boleh mengharuskan orang mengunci pelatuk senapannya. Namun kita tidak dapat mengasumsikan bahwa Kongres akan menggunakan undang-undang tersebut sebagai pemicu untuk mengharuskan pendaftaran senapan. Kita juga tidak dapat mengasumsikan bahwa Kongres akan menyita semua senapan dan akhirnya kita tidak boleh mengasumsikan bahwa kalau senapan kita disita pemerintah, maka para penjahat tidak akan takut pada apapun. Argumen ini mengasumsikan banyak hal yang tidak dibuktikan. Ini adalah sesat pikir lereng licin.

Seperti halnya cerita orang Arab dengan untanya, adalah bijaksana untuk menolak awal dari sebuah malapetaka. Tetapi kejahatan bisa dimulai ketika kita menerima sesat pikir lereng licin.

Turis A: Bisakah kamu mengganti t-shirt mu? Kau telah memakainya selama seminggu, dan baunya sangat menyengat!

Turis B: Kenapa memangnya? Hari Senin baju ini baik-baik saja. Hari Selasa juga kamu tidak mengeluh. Demikian juga dengan Hari Rabu. Sekarang tiba-tiba kok kamu mengeluh?

Turis yang memakai baju berbau ini mengatakan bahwa karena tidak ada yang membatasi, maka tidak ada perbedaan. Namun demikian, hanya karena orang yang menutup hidung kalau t-shirt sangat berbau tidak dapat menunjukkan dengan tepat kapan sebuah t-shirt menjadi terlalu berbau untuk dipakai dalam hubungan antar masyarakat yang baik, hal ini tidak berarti bahwa bau t-shirt tidak dapat melewati ambang batas tersebut.

Argumen ini adalah sesat pikir lereng licin karena si turis yang berbau menyatakan bahwa tidak ada perbedaan, tidak ada pemisah, dan tidak ada pembeda. Namun semua asumsi ini perlu dibuktikan. Kita tidak boleh begitu saja mengasumsikan bahwa tidak ada perbedaan atau bahwa serangkaian hal buruk akan terjadi hanya karena sulit untuk menentukan garis pemisah.

Informasi tentang buku ini dapat diperoleh di tautan ini.

Untuk mendapatkan buku ini silahkan klik tautan ini.

Kutipan lain dari buku ini dapat dilihat dengan mengklik tautan ini.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Kutipan Buku, Sesat Pikir Lereng Licin. Tandai permalink.

Tinggalkan Komentar anda, berisi nama dan tempat tinggal anda. Misalnya: Joni (Kupang)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s